Senin, 30 Juni 2014
Kamis, 26 Juni 2014
Romantis itu…
Romantis itu…
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.
Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.
Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”
Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”
Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”
Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.
Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.
Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.
Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.
Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggungjawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggungjawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.
Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah di malam hari. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah dan tarbiyah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah di malam hari. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah dan tarbiyah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya
Romantis itu…
Saat malam kian gulita, dan anak-anak mulai lelap dalam tidurnya. Bisik-bisik mesra itu datang. Saat sang suami menyentuh istrinya, membisikkan kata-kata cinta. Mengawalinya dengan doa, mendaki puncak bersama…
Saat malam kian gulita, dan anak-anak mulai lelap dalam tidurnya. Bisik-bisik mesra itu datang. Saat sang suami menyentuh istrinya, membisikkan kata-kata cinta. Mengawalinya dengan doa, mendaki puncak bersama…
[Tim Redaksi Webmuslimah.com]
Kisah Gigi Ulama Jadi Bara Api Gara-Gara Tusuk Gigi
Pria itu sangat miskin. Kemiskinan
membuatnya nekat mencari nafkah dengan mencuri kain kafan. Hari itu ia
mengincar sebuah makam ulama yang belum lama dikubur. Ia berharap kafan
yang dipakai membungkus jasad sang ulama adalah kain kafan terbaik,
rangkap tiga.
Di tengah kesunyian malam, pria itu
membongkar makam tersebut. Dan ternyata benar. Kain kafan sang ulama
berlapis-lapis. Lapis pertama berhasil ditariknya. Lapis kedua juga
berhasil ditariknya. Namun saat menarik kafan lapis ketiga, ia merasakan
berat yang sangat. Rupanya tangan ulama itu menggenggam erat kafan
tersebut.
“Saat kau ambil kafan pertamaku, aku
membiarkannya” suara ulama itu mengagetkannya. Baru kali ini sepanjang
pengalamannya mencuri kain kafan, jenazah dapat berbicara. “Saat kau
tarik kafan keduaku, aku juga membiarkannya. Tetapi aku tidak mau
menghadap Allah dengan telanjang. Karenanya aku tahan kafan ketigaku
ini”
Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam
jiwa pria pencuri kafan itu. Yang pasti ia sangat terkejut. Ia juga
takut. Untungnya, ia mendengar kalimat berikutnya dari sang ulama. “Aku
merelakan dua lapis kain kafanku itu untukmu, dengan syarat kau
memintakan maaf kepada si Fulan. Mau?”
“Iya, syaikh. Mau,” jawab pria itu, “tapi mengapa syaikh meminta maaf pada si Fulan? Syaikh kan ulama sementara dia orang awam.”
“Dulu aku pernah diundang ke rumahnya
untuk syukuran dan mendoakannya. Aku disuguhi makanan dengan lauk
daging. Ketika acara selesai dan hendak pulang, aku mengambil sebuah
ranting kecil dari pohon miliknya di depan rumah. Aku memakainya sebagai
tusuk gigi. Hanya itu saja dan aku langsung membuangnya. Tusuk gigi
itulah yang kini membuatku tidak merasakan nikmat di alam barzah
meskipun aku banyak ibadah. Kamu tahu, sekarang gigi yang dulu
kubersihkan dengan ranting kecil itu sekarang berubah menjadi bara api,”
kata sang ulama sambil menunjukkan giginya.
“Mintakan kepada si Fulan agar ia menghalalkan ranting tusuk gigi itu, sampaikan permintaan maafku kepadanya.”
Demikian kisah israiliyat yang
disampaikan Ustadz Rafiul Fata di pengajian Riyadhus Shalihin Masjid
Islamic Center Gresik, Kamis (5/6/2014). Kisah ini juga diceritakan Emha
Ainun Najib dalam bukunya Slilit Sang Kiai.
Saudariku, lepas dari benar tidaknya
kisah di atas, ada pelajaran berharga bagi kita. Peringatannya sungguh
mengena. Bahwa barang apapun yang tidak halal bagi kita, ia akan
dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa apapun
milik orang lain yang kita ambil tanpa hak, ia bisa menjadi penyebab
siksa; di alam barzah, bahkan di akhirat dan menyeret kita masuk neraka.
Jika sebatang ranting kecil sebesar
tusuk gigi bisa membuat gigi berubah jadi bara api, bayangkan jika yang
kita ambil tanpa hak itu senilai sebatang pohon. Bayangkan jika kita
atau suami kita mengambil barang haram senilai sebuah rumah.
Iya kalau kita mengambil barang tanpa
hak hanya dari satu orang dan ditakdirkan Allah bisa meminta maaf
melalui perantara orang lain sewaktu kita di alam barzah seperti kisah
tadi. Karena syarat taubat dari dosa terhadap sesama (hablum minannas)
salah satunya adalah meminta halal/keikhlasan orang yang kita sakiti
atau haknya kita zalimi. Sedangkan kita hampir tak mungkin hidup lagi
setelah dimakamkan di perut bumi. Lebih berat lagi jika yang kita ambil
adalah harta milik orang banyak; korupsi.
Maka marilah kita ingat kembali, untuk
selalu menjaga diri. Agar kita tak mengambil hak orang lain. Agar kita
tidak pernah melakukan praktik korupsi. Kita ingatkan pula suami kita
agar tidak mengambil hak orang lain. Kita ingatkan suami kita agar tidak
terlibat korupsi. Jika satu tusuk gigi bisa membuat gigi menjadi bara
api? Bagaimana dengan korupsi? Ngeri! Na’udzu billah min dzalik.
[Aqsa/webmuslimah.com]
Langganan:
Postingan (Atom)