Kamis, 26 Juni 2014

Romantis itu…

Romantis itu…
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.
Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.
Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”
Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”
Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”
Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.
Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai senyuman. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.
Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.
Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.
Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggungjawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.
Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah di malam hari. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah dan tarbiyah. Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya
Romantis itu…
Saat malam kian gulita, dan anak-anak mulai lelap dalam tidurnya. Bisik-bisik mesra itu datang. Saat sang suami menyentuh istrinya, membisikkan kata-kata cinta. Mengawalinya dengan doa, mendaki puncak bersama…
[Tim Redaksi Webmuslimah.com]

Kisah Gigi Ulama Jadi Bara Api Gara-Gara Tusuk Gigi

Pria itu sangat miskin. Kemiskinan membuatnya nekat mencari nafkah dengan mencuri kain kafan. Hari itu ia mengincar sebuah makam ulama yang belum lama dikubur. Ia berharap kafan yang dipakai membungkus jasad sang ulama adalah kain kafan terbaik, rangkap tiga.
Di tengah kesunyian malam, pria itu membongkar makam tersebut. Dan ternyata benar. Kain kafan sang ulama berlapis-lapis. Lapis pertama berhasil ditariknya. Lapis kedua juga berhasil ditariknya. Namun saat menarik kafan lapis ketiga, ia merasakan berat yang sangat. Rupanya tangan ulama itu menggenggam erat kafan tersebut.
“Saat kau ambil kafan pertamaku, aku membiarkannya” suara ulama itu mengagetkannya. Baru kali ini sepanjang pengalamannya mencuri kain kafan, jenazah dapat berbicara. “Saat kau tarik kafan keduaku, aku juga membiarkannya. Tetapi aku tidak mau menghadap Allah dengan telanjang. Karenanya aku tahan kafan ketigaku ini”
Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam jiwa pria pencuri kafan itu. Yang pasti ia sangat terkejut. Ia juga takut. Untungnya, ia mendengar kalimat berikutnya dari sang ulama. “Aku merelakan dua lapis kain kafanku itu untukmu, dengan syarat kau memintakan maaf kepada si Fulan. Mau?”
“Iya, syaikh. Mau,” jawab pria itu, “tapi mengapa syaikh meminta maaf pada si Fulan? Syaikh kan ulama sementara dia orang awam.”
“Dulu aku pernah diundang ke rumahnya untuk syukuran dan mendoakannya. Aku disuguhi makanan dengan lauk daging. Ketika acara selesai dan hendak pulang, aku mengambil sebuah ranting kecil dari pohon miliknya di depan rumah. Aku memakainya sebagai tusuk gigi. Hanya itu saja dan aku langsung membuangnya. Tusuk gigi itulah yang kini membuatku tidak merasakan nikmat di alam barzah meskipun aku banyak ibadah. Kamu tahu, sekarang gigi yang dulu kubersihkan dengan ranting kecil itu sekarang berubah menjadi bara api,” kata sang ulama sambil menunjukkan giginya.
“Mintakan kepada si Fulan agar ia menghalalkan ranting tusuk gigi itu, sampaikan permintaan maafku kepadanya.”
Demikian kisah israiliyat yang disampaikan Ustadz Rafiul Fata di pengajian Riyadhus Shalihin Masjid Islamic Center Gresik, Kamis (5/6/2014). Kisah ini juga diceritakan Emha Ainun Najib dalam bukunya Slilit Sang Kiai.
Saudariku, lepas dari benar tidaknya kisah di atas, ada pelajaran berharga bagi kita. Peringatannya sungguh mengena. Bahwa barang apapun yang tidak halal bagi kita, ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa apapun milik orang lain yang kita ambil tanpa hak, ia bisa menjadi penyebab siksa; di alam barzah, bahkan di akhirat dan menyeret kita masuk neraka.
Jika sebatang ranting kecil sebesar tusuk gigi bisa membuat gigi berubah jadi bara api, bayangkan jika yang kita ambil tanpa hak itu senilai sebatang pohon. Bayangkan jika kita atau suami kita mengambil barang haram senilai sebuah rumah.
Iya kalau kita mengambil barang tanpa hak hanya dari satu orang dan ditakdirkan Allah bisa meminta maaf melalui perantara orang lain sewaktu kita di alam barzah seperti kisah tadi. Karena syarat taubat dari dosa terhadap sesama (hablum minannas) salah satunya adalah meminta halal/keikhlasan orang yang kita sakiti atau haknya kita zalimi. Sedangkan kita hampir tak mungkin hidup lagi setelah dimakamkan di perut bumi. Lebih berat lagi jika yang kita ambil adalah harta milik orang banyak; korupsi.
Maka marilah kita ingat kembali, untuk selalu menjaga diri. Agar kita tak mengambil hak orang lain. Agar kita tidak pernah melakukan praktik korupsi. Kita ingatkan pula suami kita agar tidak mengambil hak orang lain. Kita ingatkan suami kita agar tidak terlibat korupsi. Jika satu tusuk gigi bisa membuat gigi menjadi bara api? Bagaimana dengan korupsi? Ngeri! Na’udzu billah min dzalik. [Aqsa/webmuslimah.com]

Kamis, 15 Mei 2014

7 jenis nafsu dalam Islam

Nasfu Amarah
Nafsu Lawamah
Nafsu Marhamah
Nafsu Mutmainah
Nafsu Raudiah
Nafsu Kamaliah
Nafsu Mardiah

Itulah kilasan tentang 7 jenis nafsu di dalam islam, kesempurnaan hanya milik Allah S.W.T dan tidak ada dalam diri manusia, akan tetapi kita memiliki akal dan pikiran yang dapat memilih serta memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dan petunjuk Allah S.W.T untuk selalu melawan hawa nafsu yang tidak baik,baik dunia dan akhirat agar senantiasa selalu mendapatkan keridhoan dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

AMARAH
Amarah adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah. Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya kerana hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Kerana itulah hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit
Lawamah
adalah nafsu yang menyadari apabila melakukan suatu kemungkaran.
golongan ini beramal tetapi masih ada riya, hasut, dengki dan sebagainya.nafsu mereka tetap dilakukan walau mereka tahu itu salah.
Marhamah
adalah nafsu yang telah dapat membuang sifat tercela.walaupun begitu, mereka masih mengkritik diri sendiri.
Mutmainah
adalah nafsu yang lemah lembut. mereka mendapat ketenangan dan menghilangkan gelisah di jiwa. mereka adalah orang yang sholeh.
Raudiah
adalah nafsu yang berusaha untuk melatih diri untuk mencintai Allah sepenuhnya..mereka bergaul dengan orang banyak tetapi hatinya semata-mata hanya kepada Allah.
Kamaliah
adalah nafsu yang sempurna, nafsu yang hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rasul.
Mardiah
adalah nafsu yang terbaik dan yang paling dicintai dan nafsu yang paling di ridhai Allah. Keridhaan tersebut terlihat pada anugrah yang diberikan-Nya berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah SWT itu bersifat universal, artinya jika Allah memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya, demikian pula sebaliknya orang yang dihinakan oleh Allah SWT, siapa pun tidak bisa memuliakannya.
nah..
bicara soal nafsu lawamah..
Antara sifat nafsu lawwamah adalah:
1. Mencela diri sendiri (tak pandai bersyukur)
2. Bertafakur dan berfikir ( ini nilai plusnya)
3. Membuat kebajikan krn ria (pengen di puji )
4. Kagum pada diri sendiri yakni 'ujub
5. Membuat sesuatu dengan sum'ah -agar dipuji ( cari cari sensasi/nganeh nganeh..misalnya..rambut..gaya funky.pake anting padahal laki laki.dandanan berlebihan..ganti ganti nama biar dianggap keren.pake baju ketat ketat biar dianggap body oke..dll)
6. Takjub pada diri sendiri (sombong)

sumber :  https://www.facebook.com/pesan.sahabat.untuk.sahabat/posts/311169832260032

Kamis, 06 Februari 2014

Apakah Itu Cinta

Apakah telapak tanganmu berkeringat dan jantungmu berdetak cepat saat berada di dekatnya?
ITU BUKAN CINTA, ITU SUKA...

Apakah kamu tak bisa melepaskan pandangan atau genggaman dari dirinya?
ITU BUKAN CINTA, ITU NAFSU...

Apakah kamu mengatakan padanya bahwa setiap hari dialah satu-satunya orang yang kamu pikirkan?
ITU BUKAN CINTA, ITU DUSTA...

Apakah kamu menerima segala kesalahannya dan kekuranganya karena itulah bagian dari dirinya?
BARULAH ITU CINTA...

Apakah kamu memaafkanya dan bersedia tetap bersamanya saat dia menyakitimu?
BARULAH ITU CINTA...

Apakah kamu tetap setia apapun yang terjadi baik saat gembira maupun sengsara?
BARULAH ITU CINTA...

3 hal dalam hidup

Ada 3 hal dalam hidup yang tidak akan kembali :
1. Waktu
2. Kata-kata
3. Kesempatan

Ada 3 Hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang :
1. Kemarahan
2. Keangkuhan
3. Dendam

Ada 3 Hal yang tidak boleh hilang :
1. Harapan
2. Keikhlasan
3. Kejujuran

Ada 3 Hal yang paling berharga :
1. Kasih Sayang
2. Cinta
3. Kebaikan

Ada 3 Hal dalam hidup yang tidak pernah pasti :
1. Kekayaan
2. Kejayaan
3. Mimpi

Ada 3 Hal yang membentuk watak seseorang :
1. Komitmen
2. Ketulusan
3. Kerja keras

Ada 3 Hal yang membuat kita sukses :
1. Tekad
2. Kemauan
3. Fokus.

Ada 3 Hal yang tidak pernah kita tahu :
1. Rezeki
2. Umur
3. Jodoh

Tapi, ada 3 Hal dalam hidup yang pasti, yaitu :
1. Tua
2. Sakit
3. Kematian